Rabu, 18 Januari 2017

OBAT YANG MANJUR

[ Renungan 19 Januari 2017 ]

Obat yang Manjur

Amsal 17:22 ( IMB )
Hati yang gembira adalah obat yang menyembuhkan, tetapi semangat yang patah membuat tulang-tulang menjadi kering.

Cara mengemudi yang serampangan, emosi yang memuncak, dan lontaran bahasa kasar di kalangan pengemudi taksi dan angkutan umum merupakan penyebab utama terjadinya keributan di jalanan kota kami, Accra, Ghana. Namun suatu hari, saya menyaksikan salah satu kecelakaan lalu lintas yang berakhir dengan tidak lazim. Sebuah bus hampir ditabrak oleh taksi yang dikemudikan dengan sembrono. Saya mengira sopir bus itu akan marah dan meneriaki si pengemudi taksi. Ternyata tidak. Sopir bus itu justru mengendurkan raut wajahnya yang tegang dan tersenyum lebar ke arah si pengemudi taksi yang terlihat merasa bersalah. Senyuman itu sangat manjur. Sambil melambaikan tangan, sopir taksi itu meminta maaf, balas tersenyum, lalu melanjutkan perjalanannya. Ketegangan pun memudar.

Sebuah senyuman mempunyai dampak yang menakjubkan bagi kinerja otak kita. Para peneliti telah menemukan bahwa “ketika kita tersenyum, otak kita melepaskan senyawa kimiawi bernama endorfin yang benar-benar menghasilkan efek menenangkan secara fisiologis.” Sebuah senyuman tak hanya dapat meredakan situasi yang tegang, tetapi juga dapat meredakan ketegangan dalam diri kita. Emosi kita mempengaruhi diri sendiri dan juga orang lain. Alkitab mengajar kita, “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain” (Ef. 4:31-32).

Ketika kemarahan, ketegangan, atau kepahitan mengancam hubungan kita dengan Tuhan dan sesama, baiklah kita mengingat bahwa “hati yang gembira adalah obat yang manjur” agar kita tetap bersukacita dan mengalami damai sejahtera.
Pikirkan suatu waktu ketika Anda marah kepada seseorang atau ketika Anda berdebat sengit dengan seseorang. Bagaimana perasaan Anda? Bagian manakah dalam hidup Anda yang dipengaruhi oleh perasaan tersebut?
Kita menemukan sukacita ketika kita belajar untuk hidup dalam kasih Yesus.

Paulus menasihati para pembacanya, “segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan” (Ef. 4:31). Kata “dibuang” diterjemahkan dari kata “artheto” yang dalam bahasa Yunani berarti mengangkat sesuatu yang berat dan menyingkirkannya. Ketika Roh Kudus meminta kita menyingkirkan cara hidup kita yang lama (4:17-24), kita harus taat, agar hidup kita dapat dipenuhi dengan kasih dan pengampunan Kristus (ay.32)

Tuhan Yesus Memberkati 🙏

Tidak ada komentar:

Posting Komentar